Home / News / Activity / ELEKTABILIATAS PARPOL ISLAM TURUN : APA YANG HARUS DILAKUKAN

ELEKTABILIATAS PARPOL ISLAM TURUN : APA YANG HARUS DILAKUKAN

BERBAGAI Lembaga survei merilis temuannya tentang elektabilitas partai politik dan sering dipublikasikan media, cetak atau elektronik. Guna menyegarkan ingatan pembaca dicantumkan kembali apa yang sudah dirilis itu dan dalam hal ini temuan yang didapat Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC). Dinyatakan Partai Golkar menempati posisi tertinggi (21,3 %) disusul PDIP 18,2 %, lalu Partai Demokrat 8,3 %, Partai Gerindra 7,2%, PKB 5,6 %, Partai Nasdem 5,2 %, PPP 4,1 %, PKS 2,7 %, PAN 1,5 % dan Partai Hanura 1,4 %. Sekiranya Pemilu digelar saat ini, beginilah perolehan suara peserta pemilu itu.
Apa yang dapat dikomentari dari hasil survei di atas?. Pertama, posisi PD digantikan PG dan partai pemenang pemilu itu jatuh ke posisi ketiga, Diduga ini merupakan dampak konflik internal yang terjadi di dalam partai bentukan SBY itu. Kedua, hal paling mengejutkan dialami PKS yang terjun bebas ke posisi kedelapan. Mungkin karena partai yang mengusung simbol Bersih itu tercemar oleh perilaku petingginya yang ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Sesuai dengan basisnya,yakni Islam, korupsi adalah haram dan secara politis merugikan PKS. Pertentangan antara sementara pendiri partai (kala itu bernama Partai Keadilan) terdengar juga ke publik dan hal itu tentu tidak menguntungkan. Ketiga, pendatang baru, Partai Nasdem menyodok ke atas, membuat empat partai lama berada di bawah posisinya. Apakan gejala ini mengindikasikan sebagian rakyat menginginkan perubahan, misi yang diusung partai bentukan Surya Paloh itu.
Namun yang perlu dicatat pula adalah posisi partai bila dikaitkan dengan tingkat korupsi para kadernya. Partai Golkar paling banyak kadernya yang terlibat korupsi seperti dikemukakan Indonesia Coruption Watch (ICW), disusul Partai Demokrat dan PDIP serta parta-partai lainnya. Pertanyaannya adalah apakah sebagian masyarakat kita sudah bersikap permisif terahadap tindak pidana korupsi. Saya kira tidak. Di sisi lain apakah sebagian aparat melecehkan himbauan presiden. Seperti sering diberitakan Presiden SBY menegaskan tidak boleh terjadi kongkalingkong antara Pemerintah, Dewan Perwakilan Rakyat, aparat penegak hukum dan dunia usaha yang menguras uang negara baik APBN maupun APBD. Bagaimanapun juga, korupsi menurut banyak orang adalah kejahatan luar biasa dan perlu ditangani dengan cara luar biasa pula, misalnya berupa vonis seberat mungkin sampai hukuman seumur hidup atau hukuman mati, tergantung tingkat kesalahannya.

Solusi Islami
Kembali ke judul tulisan ini, hanya satu partai politik berbasis Islam (selanjutnya disebut Parpol Islam) yang termasuk Lima Besar, yaitu PKB. Yang lainnya, PPP, PKS dan PAN berada di bawah. Namun perlu dicatat bahwa politik itu dinamis dan posisi parpol bisa turun-naik, tergantung aktivitas dan kreativitas anggota dan pendukungnya. Dalam konteks ini dipertanyakan apa yang harus dilakukan Parpol Islam itu.
Sebagai partai berbasis Islam, kader pendukung Partai Islam haruslah mengedepankan ajaran Islam dalam kehidupannya termasuk kehidupan berpolitik. Salah satu ajaran itu adalah ajaran amar maruf nahi munkar. Lalu, bagaimana aplikasi ajaran itu dalam berpolitik?
Lebih dulu saya fokus pada ajaran (konsep) amar maruf. Konsep itu mengacu pada perbuatan baik yang dalam Islam distilahkan ihsan. Dalam hal pemilu , agar menang, sebuah partai haruslah merebut hati calon pemilih lewat konsep ihsan itu. Seorang penyair dari Mesir melalui puisinya mengatakan: Berbuat baiklah Anda kepada orang agar Anda dapat merebut hatinya, karena selalulah hati orang tunduk pada perbuatan baik Berbuat baik kepada orang lain seperti dianjurkan penyair itulah yang disebut ihsan. Jadi, ajaran yang dianjurkan dalam era Orba dulu, yakni teror dilawan dengan teror tidaklah Islami. Betapapun jahatnya seseorang kepada kita tetapi bila direspon dengan kebaikan ia akan menyerah juga.
Dalam politik konsep ihsan identik dengan track record, tentu yang bagus. Jadi parpol Islam perlu melakukan muhasabah tentang perbuatan baik yang telah dilakukannya. Soalnya Tuhan menegaskan bahwa imbas dari perbuatan baik seseorang adalah untuk dirinya juga. Tidaklah balasan kebaikan kecuali kebaikan pula (Ar-Rahman 60). Dalam konteks politik, Parpol Islam yang berbuat baik kepada calon pemilih, akan menerima kebaikan pula dari mereka berupa pemberian suara. Menjelang pemilu 2014 Parpol Islam perlu melakukan kajian tentang Ihsan apa saja yang dibutuhkan rakyat lalu memberikan solusinya.
Hal lain perlu pula diperhatikan adalah ajaran atau konsep nahi munkar. yaitu tentang perbuatan terlarang. Perbuatan apa saja yang dilarang harus dihindari, misalnya korupsi.. Seperti diketahui umum tak satupun Parpol Islam yang steril dari perbuatan tak terpuji dan haram itu. Ketika korupsi dilakukan partai lain rakyat mungkin tidak terlalu mempersoalkannya. Dampaknya akan lain bila pelakunya kader-kader Parpol Islam. Seperti terbaca dalam survei tak satupun dari keempat Parpol Islam yang steril dari perbuatab terkutuk itu.
Karena Pemilu kurang lebih satu tahun lagi , Parpol Islam perlu berbenah diri. Perlu dikaji bentuk ihsan yang dibutuhkan rakyat, Setiap anggota partai yang dduduk di DPR dan DPRD hendaknya bertatap muka dengan konstituenya guna mendengar masalah-masalah mereka serta membantu mencari solusinya. Itu harus dilakukan sekarang, karena bak kata penyanyi Elvis Presley : now or never, tomorrow will be too late Bila mau menang Parpol Islam harus berpacu dengan waktu (meski seorang teman pesimis juga hasilnya mengingat sempitnya waktu) Bila tidak, saya khawatir anjuran mendiang Nurcholis Madjid pada 1960-an berupa Islam yes, partai Islam No! menjadi kenyataan. Akankah bakal terjadi, penganut Islam yang mayoritas di negeri ini lebih memilih parpol berasaskan bukan Islam? Wallahu alam bishhshawab

 

 

Narasumber : Yusuf Rahman

About flanoids

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by moviekillers.com