Home / Arabic / HIKMAH DI BALIK PENGORBANAN NABI IBRAHIM AS

HIKMAH DI BALIK PENGORBANAN NABI IBRAHIM AS

KHUTBAH IDUL ADHA
الله اكبر الله اكبر الله اكبر (3 مرات)
الله اكبر كبيرا والحمد لله كثيرا و سبحان الله بكرة وأ صيلا
الحمد لله الذى أنزل العيد ضيافة للأنام و جعله من أكرم ثعائر الاسلام أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له ابتلى خليله و أشهد أن سيدنا محمدا عبده و رسوله اللهم صل وسلم و بارك على سيدنا محمد و على أله و أصحابه كما صليت على ابراهيم وعلى أل ابرهيم و سلم تسليما
كثيرا أما بعد فيا عباد الله اتقوا الله وكونوا مع الصادقين

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia
Marilah kita sama-sama memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT karena dengan rahmat-Nya jua ,kita , di pagi yang cerah ini dan dengan hati penuh sukacita dapat berkumpul dalam melaksanakan salah satu suruhan-Nya yaitu shalat Idul Adha. Pagi ini sekitar tiga juta jemaah haji di Tanah Suci telah berada di Mina setelah sehari sebelumnya melakukan wukuf di Arafah. Di Tanah Air dan di mana saja terdapat umat Islam di permukaan bumi ini, kaum muslimin melakukan shalat Idul Adha dan kemudian dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban.
Menyembelih hewan kurban yang mempunyai nilai ibadah itu mengingatkan kita akan kisah yang bersumber dari al-Qur’an tentang tekad Nabi Ibrahim AS menyembelih anaknya Ismail guna memenuhi perintah Tuhan yang berbunyi:
فلما بلغ معه السعى قال يا بنى انى أرى فى المنام أنى أذبحك فانظر ماذا ترى قال يا أبت افعل ما تؤمر ستجدنى ان شاء الله من الصابرين
Surat al-Shaffat ayat 102 ini menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim AS dalam tidurnya bermimpi menyembelih anaknya sendiri, Ismail. Bagi seorang Nabi, mimpi adalah wahyu dan ini berarti ia mendapat perintah menyembelih anaknya itu. Perintah itu disampaikannya kepada Ismail dan meminta pendapatnya. Tanpa ragu-ragu sang anak meminta sang bapak melaksanakan perintah Tuhan itu.
Maka tejadilah peristiwa yang sama sekali tidak dapat diterima akal. Sang bapak bersama sang anak keluar dari rumah menuju tempat penyembelihan. Dalam perjalanan, kedua anak beranak itu digoda syaitan dengan maksud agar keduanya mengabaikan perintah Tuhan, akan tetapi tidak mereka hiraukan dan mereka bahkan melemparnya..
Kisah kedua orang yang berhati teguh itu kemudian mencapai titik puncak:sang bapak siap menyembelih dan sang anak siap disembelih. Ketika mata pisau diletakkan di leher sang anak, maka pada detik yang amat kritis itu Tuhan berbuat lain. Kedua insan itu dinilai telah melaksanakan perintah_Nya dengan sepenuh hati dan untuk itu pantas diberi imbalan. Dengan kekuasaan-Nya dan tanpa disadari oleh Nabi yang patuh itu, Tuhan mengganti tubuh Ismail dengan seekor kibasy, sehingga sang anak luput dari penyembelihan. Bila hari ini kita melakukan penyembelihan hewan kurban, ibadah ini merujuk pada pengorbanan Nabi yang patuh dan teguh hati itu.
Kisah kedua insan itu sudah amat sering kita dengar sehingga sudah menjadi pengetahuan umum, namun hikmah atau pelajaran apa yang dapat kita tarik dari padanya? Paling tidak tiga hal dapat kita sebut. Pertama , sebagai seorang mukmin, kita tidak akan dibiarkan mengaku beriman begitu saja tanpa diuji oleh Tuhan. Bahkan seorang Nabi pun tidak luput dari ujian itu, suatu ujian yang amat berat. Adakah ujian yang lebih berat dari pada harus menyembelih anak sendiri? Terhadap kita, ada dua macam ujian Tuhan., yaitu berupa nikmat dan berupa musibah. Ujian berupa nikmat antara lain disebutkan di dalam firman Tuhan berikut ini:
و هو الذىجعلكم خلائف الارض ورفع بعضكم فوق بعض درجات ليبلوكم فى ما أتاكم ان ربك سريع الحساب و انه لغفور رحيم
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi, dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat untuk menguji tentang apa yang diberikan-Nya kepada kamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia maha pengampun lagi maha penyayang” (al – An’am 165 )
Apa yang diberikan Tuhan kepada kita disebut nikmat, dan alangkah banyaknya nikmat itu sehingga tidak terhitung jumlahnya, seperti kekayaan, keturunan, kekuasaan, kesehatan, kepintaran dan sebagainya. Seseorang dikatakan lulus ujian Tuhan bila ia mensyukuri nikmat-Nya itu dengan cara menggunakannya sesuai dengan kehendak-Nya. Sebaliknya seseorang disebut gagal ujian bila ia menggunakan nikmat berlawanan dengan kehendak-Nya. Orang itu disebut kufur nikmat atau ingkar nikmat.
Maka tergolong kufur nikmat orang yang menggunakan kekayaannya untuk berbuat durhaka kepada Tuhan, atau berlaku tidak adil dalam menggunakan kekuasaan yang dimiliki, atau menggunakan kepintaran untuk menipu dan membodohi orang lain, dan sebagainya. Cepat atau lambat ia kan menerima siksaan Tuhan sebagaimana ditegaskann-Nya:.
و اذ تأذن ربكم لان شكرتم لأزيدنكم ولان كفرتم ان عذابى لشديد
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan demi jika kamu bersyukur niscaya akan Aku tambah (nikmat-Ku) untukmu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) sesungguhnya azab-Ku amatlah pedih” (Ibrahim 7 )
Azab itu sudah pasti akan dialami di akhirat kelak, akan tetapi tidak jarang azab itu diperlihatkan Tuhan di dunia ini dalam pelbagai bentuk. Bila anak yang seharusnya menghormati dan berbuat baik kepada kita bertingkah laku melecehkan dan mengecewakan kita, tidakkah itu suatu siksaan? Bila harta dan kekuasaan yang seharusnya membahagiakan kita malah membuat kita tidak tenteram, tidakkah itu suatu azab? Oleh karena itulah kita perlu selalu menyikapi nikmat Tuhan dengan cara melakukan mawas diri seperti yang diperlihatkan Nabi Sulaiman AS. Setiap kali menerima nikmat Tuhan beliau berkata:
هذا من فضل ربى ليبلونى أأشكر أم أكفر
“Ini karunia dari Tuhanku, untuk menguji apakah aku akan bersyukur atau berkufur” (an-Naml 40)
Selain berbentuk nikmat, ujian Tuhan, seperti tadi disebut, bisa berupa musibah seperti dijelaskan-Nya:
و لنبلونكم بشئ من الخوف والجوع و نقص من الأموال و الأنفس والثمرات و بشر الصابرين
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan.Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (al-Baqarah 155 )
Petani yang gagal panen, pedagang yang bangkrut, karyawan yang kehilangan pekerjaan, penduduk yang ditimpa musibah banjir, masyarakat yang kehilangan rasa aman, bangsa yang didera multi krisis dsb. adalah wujud dari ujian Tuhan. Namun ujian Tuhan itu kadang-kadang merupakan akibat dari ulah kita jua. Ambillah musibah banjir sebagai contoh. Musibah itu melanda kita akibat perilaku yang secara serampangan membabat hutan.
Dalam hal ujian jenis kedua ini kita dituntut bersabar sebagaimana diisyaratkan dalam ayat di atas. Sabar bukan hanya berarti tabah saja dalam menghadapi kesulitan tetapi di samping tabah kita dituntut pula berusaha untuk keluar dari kesulitan itu dengan disertai doa. Jadi, sikap menyerah pada nasib tanpa berusaha membebaskan diri jeratan masalah, bukanlah sikap orang sabar. Orang yang sabar dengan demikian bukanlah orang yang pasif, tetapi sebaliknya dinamis. Kalau al-Qur’an mngatakan “sesunggunya Allah bersama orang-orang yang sabar”, maka yang dimaksud adalah orang sabar yang dinamis itu
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.
Pelajaran kedua dari pengorbanan Nabi Ibrahim AS menyangkut niat (motivasi) dalam beribadah. Para mubaligh mengajarkan agar kita ikhlas dalam beribadah, artinya semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT, tidak dicampuri oleh motivasi lain. Niat yang ikhlas itulah yang mendorong Nabi Ibrahim AS sampai tega menyembelih anak sendiri. Dan atas dasar niat yang ikhlas itu pulalah Tuhan mengembalikan kepada sang pemiliik nikmat yang nyaris luput darinya itu.
Beribadah secara ikhlas itu tidaklah mudah karena manusia rawan digoda oleh motivasi lain seperti tergambar dari sebuah Hadits yang amat popular, mengenai hijrah.
اانما الأعمال باالنيات و انما تكل امرئ ما نوى
“Seungguhnya amal itu tergantung pada niat, dan setiap orang akan memperoleh sesuai dengan yang diniatkannya”. Lanjutan Hadits ini menyebutkan tentang orang yang hijrah karena mengejar harta (dunia) atau mengincar wanita. Mereka akan memperoleh apa yang dikejar atau diincar itu, tetapi tidak akan mendapat pahala hijrah.
Demikianlah pula dengan kita ketika melakukan ibadah, baik ibadah mahdhah maupun ibadah sosial. Bila kita misalnya berinfaq dengan niat agar dipuji orang (disebut riya’) atau agar mendapat nama baik (disebut sum’ah) kita mungkin mendapat pujian dan nama baik itu, tetapi tidak mendapat imbalan dari Tuhan. Infaq yang didasari riya’ ibarat debu di atas batu yang licin. Sedikit saja ditimpa hujan rintik-rintik, ia akan lenyap tanpa bekas, begitu al-Qur’an membuat tamsil. Begitu besar mudharat riya’ dan sum’ah itu sampai-sampai Nabi Muhammad SAW sebelum melaksanakan ibadah haji berdoa’: “Ya Allah, berilah aku kemampuan melakukan ibadah haji tanpa riya’ dan tanpa sum’ah”. Kalau Nabi saja mewaspadai kedua sifat tercela itu, apatah lagi kita.
Kaum mislimin dan muslimat yang berbahagia.
Pelajaram ketiga berkaitan dengan hubungan antara bapak dan anak. Ketika Nabi Ibrahim AS memberitahukan kepada Ismail tentang peneyembelihan itu, sang anak pasrah, tanpa memperlihatkan sikap penolakan. Al-Qur’an juga menyebutkan, kedua anak beranak itu kemudian bahu membahu membangun ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam. Ini terjadi karena sang anak memahami benar maksud ayat yang bunyinya:
و اعبدوا الله و لا تشركوا به شيأ و بالوالدين احسانا
“Dan sembahlah Allah, jangan persekutukan Dia dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu” (aL-Nisa’36)
Berbuat baik kepada orang tua dalam ayat ini disenafaskan penyebutannya dengan beribadah kepada Tuhan, suatu indikasi betapa Tuhan memandang tinggi posisi orang tua di dalam keluarga. Posisi yang tinggi itu mengharuskan orang tua memnbentuk anak-anak berkeperibadian muslim, yaitu anak-anak yang bertaqwa kepada Tuhan dan sekaligus berbakti kepada orang tua. Kita menyebutnya anak yang saleh. Nabi Ibrahim AS berhasil membentuk anak yang saleh itu, terbukti dengan kepasrahan anaknya untuk disembelih sebagai pemenuhan perintah Tuhan, serta kerelaan anaknya membantunya membangun ka’bah.
Dewasa ini, oleh beberapa faktor, tidak sedikit orang tua yang gagal membentuk anak-anak yang saleh itu. Terdapat anak-anak yang kurang menghormati orang tua bahkan ada yang tega membunuhnya. Terdapat kaum remaja yang terlibat tindak pidana kejahatan, pencurian kendaraan bermotor, misalnya. Sekitar 12 tahun lalu, di Jakarta, kebanyakan pengguna narkoba adalah pelajar dan mahasiswa. Kini obat terlarang itu sudah masuk ke desa-desa dan bahkan pesantren. Berita lain yang sangat mengejutkan adalah berita mengenai ribuan anak-anak perempuan di bawah usia 16 tahun yang terlibat dunia pelacuran.
Kita seharusnya tidak hanya menyalahkan perilaku mereka akan tetapi juga melakukan mawasdiri oleh karena mereka pertama-tama adalah produk dari lingkungan keluarga, baru kemudian lingkungan sosialnya. Maka perlu dipertanyakan apakah ada upaya kita membentuk keluarga yang harmonis di mana masing-masing anggota saling menghargai dan memahami posisi masing? Apakah kita melakukan komunikasi dengan anak –anak untuk mengetahui masalah mereka dan mendiskusikan solusinya?
Oleh tuntutan pekerjaan,sebagian kita, terutama di kota-kota besar, tidak memiliki waktu yang cukup untuk berkomunikasi dengan mereka. Akibatnya, hubungan antara orang tua dan anak-anak menjadi kurang akrab. Situasi seperti itu membuat mereka mencari pelarian di luar rumah dengan segala dampak yang ditimbulkannya seperti gangguan terhadap keamanan dan ketertiban masyarakat. Terdapat pula keluarga-keluarga kaya yang mewujudkan kasih sayang kepada anak dengan memberinya uang saku dalam jumlah tidak biasa. Ini mendorong mereka untuk misalnya mengkonsumsi narkoba. Beberapa tahun lalu, seorang pimpinan pesantren yang merehabilitasi anak-anak korban narkoba mengatakan bahwa sebagian besar anak-anak yang dirawatnya berasal dari keluarga yang secara ekonomi mampu, sehingga ia berkesimpulaan terdapat korelasi postif antara penderita narkoba dengan status sosial-ekonomi sang bapak, yaitu kelas menengah ke atas. Kini pengguna narkoba sudah terdapat pada keluarga dengan status social- ekonomi yang lebih rendah. Selanjutnya, modernisasi memberi peluang yang sama antara kaum laki-laki dan kaum perempuan berkiprah dalam berbagai aspek kehidupan. Namun demikian, kaum perempuan haruslah tidak melupakan kodratnya sebagai ibu dari anak-anaknya. Secara psikologis, kaum ibu lebih dekat dengan anaknya karena dialah yang mengandung, melahirkan, menyusui dan membesarkan mereka, .suatu beban yang amat berat. Oleh karena itulah Nabi memberikan penghargaan yang tinggi kapada kaum ibu dengan mengatakan bahwa sorga terletak di bawah telapak kaum ibu, dan bahwa seorang anak berbuat baik lebih dulu kepada ibu dan kemudian :baru kepada bapak. Penghormatan yang tinggi kepada kaum ibu ini hendaknya memotivasi mereka agar di samping mengembangkan karirnya, juga tetap mendidik anak-anaknya.
Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia
Seperti tahun-tahun lalu Idul Adha kali ini dirayakan oleh sebagian kaum muslimin dalam suasana prihatin. Belasan juta orang menganggur dan puluhan juta orang pula hidup di bawah garis kemiskinan. Tanpa pekerjaan dan perut lapar orang bisa terdorong melakukan tindak kejahatan seperti penjambretan, penipuan, perampokan, pencurian dan perampasan termasuk pencurian dan perampasan atas kenderaan bermotor serta tindak kejahatan lainnya. Keamanan masyarakat terusik sementara rasa aman merupakan salah satu kebutuhan manusia. Mengapa kondisi buruk ini terjadi? Jawabannya beragam, tergantung pada pendekatan yang digunakan.
Dari sudut pandang agama, lemahnya penegakan hukum menjadi penyebab timbulnya kondisi ini sebagaimana difahami dari hadits Nabi berikut ini
اانما هلك الذين من قبلكم كانوا اذا سرق الشريف تركوا الحد و اذا سرق الضعيف اقاموا الحد والذى نفسى بيده اذا سرقت فاطمة بنت محمد لقطعت يدها
Artinya:”Sesungguhnya yang membuat orang-orang sebelum kami binasa adalah bila yang mencuri orang besar hukum diabaikan , dan bila yang mencuri orang kecil hukum ditegakkan, Demi Allah, jika Fatimah binti Muhammad mencuri pasti akan aku potong tangannya”
Berdasarkan ilmu yang diberikan langsung oleh Tuhan kepada Nabi, beliau mengetahui apa yang telah dan bakal terjadi. Mengenai masa lalu beliau mengungkapkan bahwa kebinasaan umat terdahulu disebabkan karena tidak tegaknya hukum segara berkeadilan. Khalifah Ali bin Abi Thalib begitu terobsesi oleh keadilan ini sampai-sampai khalifah keempat itu mengeluarkan pernyataan berikut. : “Allah akan menegakkan negeri yang adil meskipun kafir, dan tidak akan menegakkan negeri yang tidak adil meskipun Islam”.
Kebenaran pernyataan khalifah itu dapat dibuktikan secara empiris. Ambillah Singapura sebagai contoh. Negara yang mayoritas penduduknya tidak beragama Islam itu, meski miskin sumber daya alam, merupakan salah satu negara termakmur di dunia. Ada beberapa faktor penyebab, di antaranya hukum ditegakkan secara konsisten dan tanpa pandang bulu. Negara tetangga itu tercatat sebagai negara Asia yang paling bersih dari korupsi..
Contoh lain adalah Republik Rakyat Cina. Negara berpenduduk 1,4 milyar dan yang resminya masih menganut ideologi komunis itu, oleh para pengamat diramalkan bakal menjadi kekuatan utama ekonomi dunia pada tahun 2020, mengungguli Amerika dan Jepang. Salah satu faktor penyebabnya sama dengan Singapura: penegakan hukum. Mantan Perdana Menteri Zou Ronji menyiapkan 100 buah peti mati untuk para koruptor yang divonis hukumani mati. Salah satu peti mati itu bahkan diuntukkan bagi dirinya sendiri, bila ia melakukan perilaku terkutuk itu. Dalam kenyatannya, Wakil Ketua DPR yang terbukti korup dihukum mati sementara sang penggagas peti mati itu tetap bersih dari korupsi.
Bagaimana di Indonesia? Negeri ini juga terkena dampak akibat krisis ekonomi global yang bermula di Amerika Serikat. Pengangguran dan kemiskinan belum terentaskan. Maka tidak ada jalan lain bagi kita kecuali menegakkan hukum secara berkeadilan dalam mengelola negara. Mengapa? Ambillah pengurangan pengangguran sebagai contoh. Pengangguran akan berkurang bila diciptakan lapangan kerja. Lapangan kerja tercipta bila dilakukan investasi. Modal dalam negeri tidak mencukupi guna melakukan investasi itu. Kita harus mengundang investor asing. Mereka akan datang bila setidaknya terpenuhi tiga syarat : infra struktur yang memadai, keamanan yang terjamin serta kepastian hukum. Kepastian hukum terjadi bila hukum ditegakkan secara konsisten, berkeadilan .tanpa pilih kasih. Dengan penjelasan singkat ini jelas terdapat keterkaitan antara hadits Nabi tadi dengan dengan upaya mengurangi pengangguran. Bila dianalisis lebih jauh, keterkaitan itu akan tampak pula dalam bidang-bidang lain, sehingga dapat disimpulkan bahwa penegakan hukum yang berkeadilam mendjadi syarat mutlak bagi keberhasilan pembangunan.
فاعتبروا يا أولى الأبصار لعلكم تفلحون والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته

H. Yusuf Rahman

 

 

Narasumber : Yusuf Rahman

About flanoids

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Powered by moviekillers.com